Foto. Anton Kayame, S.Pd.Gr
Di antara dua hati, cinta bersemi,
Namun beda keyakinan, jadi penghalang abadi.
Kita berjanji setia, takkan pernah menyerah,
Namun restu tak datang, hati pun terluka parah.
Orang tua memandang, dengan mata berbeda,
Tradisi dan dogma, jadi tembok raksasa.
Cinta kita suci, tak ternodai perbedaan,
Namun takdir berkata lain, kita harus berpisah jalan.
Di tengah jalan, cinta kita terkandas,
Bukan karena benci, namun karena perbedaan pandang.
Air mata jatuh, membasahi kenangan indah,
Kita berpisah hati, meski jiwa merindukan.
Mungkin di surga, cinta kita kan bersatu,
Tanpa sekat agama, tanpa perbedaan waktu.
Namun kini, kita harus terima kenyataan,
Cinta beda agama, seringkali menyakitkan.
Selamat tinggal, kekasih hati,
Semoga kau bahagia, meski tanpa diriku di sisi.
Cinta kita abadi, meski tak bisa bersatu,
Kenangan bersamamu, kan selalu ku simpan di kalbu.
Namun beda keyakinan, jadi penghalang abadi.
Kita berjanji setia, takkan pernah menyerah,
Namun restu tak datang, hati pun terluka parah.
Orang tua memandang, dengan mata berbeda,
Tradisi dan dogma, jadi tembok raksasa.
Cinta kita suci, tak ternodai perbedaan,
Namun takdir berkata lain, kita harus berpisah jalan.
Di tengah jalan, cinta kita terkandas,
Bukan karena benci, namun karena perbedaan pandang.
Air mata jatuh, membasahi kenangan indah,
Kita berpisah hati, meski jiwa merindukan.
Mungkin di surga, cinta kita kan bersatu,
Tanpa sekat agama, tanpa perbedaan waktu.
Namun kini, kita harus terima kenyataan,
Cinta beda agama, seringkali menyakitkan.
Selamat tinggal, kekasih hati,
Semoga kau bahagia, meski tanpa diriku di sisi.
Cinta kita abadi, meski tak bisa bersatu,
Kenangan bersamamu, kan selalu ku simpan di kalbu.
Tags:
Puisi
